Topik 6 Menyimak Langsung atau Intensif

 

MENYIMAK LANGSUNG (INTENSIF)

 

Faiza Nurrahmah (20016013)

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

FBS Universitas Negeri Padang

Email: faizaa.nrrahmah@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Keterampilan   berbahasa   dibagi   menjadi   beberapa   aspek   yaitu   keterampilan   menyimak (listening skill), keterampilan berbicara (speaking skill), keterampilan membaca (reading skill),   dan   keterampilan   menulis   (writing skill). Namun, di antara keterampilan   berbahasa   yang  yang lainnya, yang pertama   dipelajari   adalah   keterampilan   menyimak, artinya seseorang yang menguasai keterampilan menyimak akan menguasai keterampilan lainnya. Artinya,  aktivitas   menyimak   merupakan   aktivitas   yang   paling   awal dilakukan peserta didik sebelum mereka melakukan aktivitas berbicara, aktivitas membaca,dan aktivitas menulis. Oleh karena itu, dalam laporan bacaan pada kali ini, penulis akan membahas mengenai salah satu jenis menyimak, yaitu menyimak langsung atau menyimak intensif.

 

PEMBAHASAN

Jenis menyimak dibagi menjadi dua, yaitu menyimak intensif dan menyimak ekstensif. Menyimak   ekstensif   (extensive listening)   adalah   sejenis   kegiatan   menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu dibawah  bimbingan   langsung  dari  seorang   guru  (Tarigan,   1987).  Jenis  menyimak ekstensif meliputi  menyimak sekunder, menyimak sosial, menyimak apresiatif, menyimak pasif. Kedua, menyimak intensif. Menyimak intensif adalah   kegiatan   menyimak   yang  harus  dilakukan   dengan  sungguh-sungguh dan  penuh konsentrasi agar dapat menangkap makna yang dikehendaki. Menyimak Intensif diakhiri dengan kegiatan  mengungkapkan kembali sesuatu yang dipahami secara lisan maupun tulisan. Jenis menyimak intensif  meliputi menyimak kritis, menyimak   konsentratif, menyimak   eksploratif, menyimak kreatif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif.

A.    Menyimak Monolog, Dialog, dan Polilog

             Monolog, dialog, dan epilog merupakan pembagian jenis percakapan yang dibedakan berdasarkan jumlah penuturnya. Monolog dapat berupa pidato, khotbah, radio, telivisi, berita, dan sebagainya. Wacana dialog dicirikan dengan adanya informasi timbal balik antara dua orang yaitu penutur dan pendengar. Adapun wacana polilog memungkinkan terjadinya pertukaran informasi tiga jalur atau lebih.

Kegiatan menyimak tiga jenis wacana atau keseluruhan tutur ini dapat digolongkan ke dalam menyimak langsung karena diperlukan kesungguh-sungguhan saat menyimaknya. Selain itu, dalam menyimak monolog, dialog, dan epilogdiperlukan juga daya kreatif dan eksploratif agar lebih memahami peran tokoh pada setiap tuturan kata yang diucapkan.

B.     Menyimak Pidato

Menyimak pidato termasuk salah satu contoh jenis menyimak intensif karena memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh untuk memahami hal yang disampaikan dalam pidato.Sebelum menyimak pidato, tentunya harus memahami makna dan tujuan dari menyimak pidato sendiri.

Menyimak merupakan salah satu kegiatan keterampilan berbahasa   Indonesia   dalam mendengar, mengamati, apresiasi, mengidentifikasi, dan menginterpretasi bahan simakan untuk memperoleh makna atau informasi. Sedangkan definisi berpidato menurut Nugraha (dalam Aminawati, 2019) adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum dengan cara mengungkapkan untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi dapat disimpukan bahwa menyimak pidato adalah suatu kegiatan mendengar, mengamati, apresiasi, mengidentifikasi, dan menginterpretasi kegiatanberbicara di depan umum untuk menyampaikan suatu penyampaian dan penanaman pikiran, informasi, atau gagasan dalam kondisi tertentu.

C.    Menyimak Diskusi dan Percakapan

Menyimak diskusi dan percakapan sangat sering kita lakukan dalam kegiatan sehari-hari tanpa kita sadari bahwa kegiatan tersebut juga ternyata tergolong sebagai kegiatan menyimak intensif karena dibutuhkan daya pikir yang krtis dan interogatif. Sebagai seorang penyimak diskusi, kita dapat berperan langsung dalam percakapan.Dengan demikian, tentu saja daya interogatif kita diperlukan untuk memunculkan pertanyaan selanjutnya yang memastikan percakapan akan terus berjalan.

D.    Menyimak Berita dan Wawancara

Menyimak merupakan kegiatan yang memerlukan indra pendengaran sebagai alatnya. Oleh karena itu, jenis berita atau wawancara yang dapat disimak adalah yang memuat audio seperti pada telivisi atau radio. Menyimak berita dan wawancara digolongkan ke dalam menyimak intensif karena diperlukan daya simak kritis dan selektif, mengingat banyaknya berita bohong yang beredar saat ini.

E.     Menyimak Cerita dan Latihan

Sebenarnya, ada banyak sekali cerita yang bisa kita simak, salah satunya adalah cerita rakyat. Tujuan dilaksanakannya menyimak cerita adalah untuk memperoleh pengetahuan dari materi yang diperdengarkan. Selain itu, bertujuan untuk mengapresiasi materi simakan yang sesuai dengan kriteria menyimak intensif.

Menurut Mustakim (dalam Sabillah, 2020), jenis cerita rakyat dikelompokkan atas isi cerita dan pada tokoh cerita yang di tampilkan yang terbagi dari fabel, legenda, mite, dan sage. Sementara William R. Bascom (dalam Danandjaya, 1984) membagi cerita prosa menjadi tiga, yaitu mite, legenda, dan dongeng.

Dalam kegiatan menyimak cerita, diperlukan media audio. Menurut Wina Sanjaya (dalam Sabillah, 2020), media audio adalah media atau bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara) yang dapat merangsang pikiran dan perasaan pendengar sehingga terjadi proses belajar. Media audio cocok untuk mencapai tujuan yang bersifat kognitif yang berupa data dan fakta atau mungkin konsep dan tujuan yang berhubungan dengan sikap (afektif). Penggunaan media audio dalam proses menyimak cerita diharapkan dapat mempertinggi proses dan hasil pembelajaran sehingga kompetensi ini benar-benar dimengerti dan dipahami.

 

PENUTUP

Untuk menutup laporan baca ini, penulis akan memberikan kesimpulan dari materi menyimak intensif. Menyimak intensif merupakan kegiatan   menyimak   yang  harus  dilakukan   dengan  sungguh-sungguh dan  penuh konsentrasi agar dapat menangkap makna yang dikehendaki sehingga penyimak dapat mengungkapkan kembali sesuatu yang dipahami secara lisan maupun tulisan. Adapun kegiatannya dapat berupa menyimak monolog, dialog, polilog, pidato, berita, wawancara, diskusi, percakapan, hingga cerita. Kesemuanya ini jelas memerlukan kemampuan untuk kritis, konsentratif, eksploratif, kreatif, interogatif, dan selektif sehingga penyimak dapat memastikan betul apa yang disimaknya terserap baik dan dapat mengungkapakan kembali apa yang dia simak.

 

DAFTAR ISI

Aminawati, B. F. 2019. Keterampilan Menyimak Pidato. Tersedia Online https://Osf.Io/Preprints/Inarxiv/6j9ef/. (diakses pada 16 Oktober 2020)

Danandjaya, James. 1997. Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.

Sabillah, B. M. 2020. Peningkatan Keterampilan Menyimak Cerita Rakyat Melalui Media Audio pada Siswa Kelas V SS Inpres Borong Jambu II Kecamatan Manggala Kota Makassar. JKPD (Jurnal Kajian Pendidikan Dasar)5(1), 28-38.

Tarigan,H. G. 2008. Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

 

Comments